Senin, 26 Mei 2014

Jokowi-JK Pasangan Jitu




Jokowi-JK . Itulah salah satu pasang nama capres dan cawapres di bursa pilpres tahun 2014 ini. Jokowi –Jk lebih sering kusebut sebagai duet J2 alias Jitu. Jitu merupakan singktan dari dua nama tokoh ini yang sama-sama berinisial ‘J’, sehingga menjadi J2. Dalam bahasa Inggris J2 terbaca Jitu.
Menemukan singkatan J2 (Jitu) membuatku girang bukan kepalang. Sebab Jitu sendiri bukan sekadar bermakna dua inisial ‘J’ melainkan ada makna yang sangat dalam dari itu. Jitu dalam Kamus Bahasa Indonesia memiliki makna tepat benar sasarannya, tidak meleset. Sehingga bisa kita maknakan bahwa memilih pasangan ini sebagai pemimpin bangsa kedepan merupakan kejituan/ketepatan. Untuk itu jangan ragu secuil pun. Yakinlah ini benar-benar jitu.
Oya, diluaran sana banyak yang coba-coba ngejegal duet jitu ini dengan berbagai kampanye hitam. Sebagai generasi pemilik hak coblos, jangan mudah terkena tipu-tipu. Malu jika hari gini kita masih bisa dibodohin dengan berbagai isu miring. Jadi ayo kita sama-sama cermat atas segala informasi yang tersaji, baik dari media cetak, elektronik, maupun kabar burung. Selain itu kita juga kudu waspada sama omongan orang yang suka ngebeo, makusudnya suka ngomong ini itu tapi hanya ikut-ikutan saja.
Jokowi di mataku bukanlah sosok yang sempurna. Sebab tidak ada makhluk yang sempurna di muka bumi ini. Pemilik kesempurnaan hanya Allah semata. Namun jika kita bandingkan dengan figur pemimpin lain di Indonesia, dialah yang paling berupaya untuk mengabdi secara total. Kerjanya bisa kita rasakan. Real. Sedikit bicara banyak berkarya. Itulah Jokowi.
Pengabdiannya di Jakarta memang belum tuntas untuk lima tahun kedepan. Tapi itu bukan berarti beliau telah menyalahi janji. Sebab membenahi Jakarta tidak cukup hanya dengan tangan Gubernur, melainkan perlu kekuatan yang lebih hebat dari itu. Kota metropolitan itu ibarat mengidap penyakit kronis. Perlu penanganan cepat. Jika tidak maka bisa-bisa mati sebelum usai dibenahi. Untuk itu, keyakinanku akan putusan Jokowi nyapres adalah salah satu alasannya agar pembenahan Jakarta bisa lebih cepat diatasi. Sehingga ibu kota tercinta ini segera menjadi kota yang layak, pantas, dan bersahabat untuk dihuni.
Melihat banyak sekali yang menjelek-jelekkan Jokowi sangat ngeri. Bahkan terkesan memaksakan diri buat mencari-cari kesalahan beliau. Padahal sudah jelas tidak ada manusia yang sempurna, siapa pun yang kita cari kekurangannya pasti akan ketemu juga. Ada yang kesalahannya lebih banyak daripada pengabdiannya dan ada pula yang lebih banyak kebaikannya daripada kesalahannya. Lihatlah secara obyektif. Jangan hanya fokus mencecar kekurangannya lantas lupa akan prestasi-prestasi besar yang telah diraihnya, bahkan melupakan kinerja nyatanya untuk kita yang jelas-jelas terlihat di depan mata.
Sekurang-kurangnya Jokowi di mata kita, paling  tidak beliau telah berusaha berbuat. Menunjukkan kinerjanya secara nyata di depan mata kita. Jika ada kekurangan itu manusiawi dan jika ada kelebihan jangan lupa dipuji.
Jokowi-JK adalah jagoku di ring pilpres ini. Jika biasanya golput, maka 9 Juli mendatang aku akan memberikan suaraku demi beliau berdua. Tentunya yang lebih besar lagi adalah demi perubahan bangsa ini menjadi Indonesia hebat.
Terakhir, bagi lo, lo, dan lo yang gak suka gue punya jago gak usah sewot. Sebab gue gak ngrecokin lo punya jago. Sportif dan santun jauh lebih oke. Kedepankan demokrasi yang bersahabat, jauhkan diri dari menghujat. Demi terciptanya Indonesia hebat!
Jokowi-JK pasangan Jitu. Jitukan pilihanmu! Jitukan Bangsamu!


Jimbaran, 24 Mei 2014

Sabtu, 24 Mei 2014

Dodit Close Mic?


 
Bener-bener gak nyangka jika Si Dodit kudu close mic secepat kilat. Bahkan serasa disapa petir. Aku kecewa. Sangat! Seketika kuprenguti layar kaca. Tidaaaaak!
            Sebagai seorang fans tentu kekecewaanku ini wajar. Bagiku penampilan Dodit tetaplah lugu. Lugu dan lucu. Dialah satu-satunya komika yang bisa membuatku terpingkal-pingkal. Bahkan saking lucunya tertawaku hingga bercampur tangis.
            Jujur aku tidak mengerti kenapa pihak kompas dan juri memilih mengeluarkan Dodit. Padahal jelas ada yang fatal dalam pentas kocak malam itu. Siapa lagi kalau bukan Pras, komika yang sempat close mic lebih dulu itu. Bagiku dia lebih pantas untuk turun panggung kali kedua. Bayangkan, ada waktu satu menit yang tersisa dari durasi yang sudah ditetapkan. Fatalkan?
            Dodit sempat dikatakan memakan waktu lebih dari tiga puluh detik. Tapi bagiku itu tidak sefatal Pras. Lebih tiga puluh detik diisi dengan kekocakan lawaknya itu lebih menghibur daripada kekosongan satu menit yang disia-siakan Pras. Sekarang coba temen-temen berpikir sejenak. Pilih satu menit terbuang sia-sia atau kelebihan tiga puluh detik tapi penuh tawa? Kurasa yang benar-benar pecinta humor akan memilih pilihan terakhir.
            Jelas ini hal yang tidak dicermati oleh pihak juri. Kalaupun sempat dikatakan Dodit terkesan jalan ditempat, tapi dia tetap tidak kalah lucu dari kelima komika lainnya. Jalan di tempatnya Dodit tetap menduduki tingkat kelucuan nomor wahid. Belum ada yang bisa sekhas dia. Meskipun banyak komika lain yang dikatakan memilki kemajuan/proges yang terus meningkat setiap minggunya, tapi kemajuan itu belum ada yang bisa mengalahkan pesona Dodit. Ibaratnya Dodit itu sudah sampai di garis depan, sementara yang lain masih mencoba tancap gas mengejar pencapaian komika asal Surabaya itu.
            Keluarnya si unik pemain biola ini sontak membuatku malas untuk melihat para kontestan di seri berikutnya. Sejauh ini aku melihat Suci 4 lantaran ada si kumis tipis itu. Selebihnya sama saja lawakannya.  Tak ada yang memiliki karakter lugu plus lucu seperti dia.
            Parahnya close mic-nya komika favoritku ini adalah pada malam yang aku bela-belain buat begadang. Demi Dodit, iya Dodit. Biasanya aku menonton Suci 4 itu di hari minggu pada sore hari. Entah kenapa malam kemarin aku berusaha keras buat begadang. Ngantuk pun kubiarkan hilang. Ternyata malam yang kubela-belain ini malah berbuah kecewa.
            Yowislah. Wis takdir. Tapi paling tidak aku salut sama Dodit. Dia cukup tegar dan punya pendirian kuat akan arti lawakan. Aku masih ingat ketika dia berkata yang kurang lebih begini, “menurut Raditya Dika, pelawak itu hanya ada dua. Satu lawakan yang ingin mencerdaskan bangsa dan kedua lawakan yang memang ingin menunjukkan ini lo lucu. Dan saya memilih yang kedua.” Itulah pilihan tegas yang diungkapnya terkait sebuah prinsip dalam lawakan. Meskipun lugu tapi dia tetap teguh. Semangat Dodit!


Jimbaran, 23 Mei 2014

Rabu, 12 Februari 2014

Titipan untuk Sinta





Ini dia Si Laura, yang menulis cerpen ini.

Sehabis pulang sekolah Sinta menemukan dompet yang berwarna cokelat tua. Tapi ia tidak tahu siapa pemilik dompet yang Sinta temukan itu. Sinta pun bingung harus ia belikan tas sekolah atau dikembalikan kepada pemiliknya. Sinta pun bertanya kepada ayah dan ibunya, “Ayah, Ibu kalau Sinta menemukan dompet tapi tidak tahu siapa pemiliknya sebaiknya digunakan untuk membeli keperluan pribadi atau dikembalikan pada pemiliknya?”
Ibu dan ayah Sinta pun menjawab. “Sinta, kalau kamu menemukan dompet sebaiknya dikembalikan saja walaupun kamu juga memerlukannya.”
Sinta pun berlari ke kamar dengan cepat. Sinta berkata, “ Sinta berjanji akan mengembalikan dompet yang ia temukan itu.”
Sehabis pulang sekolah, Sinta mencari alamat yang mempunyai dompet yang Sinta temukan itu. Sinta membuka dompet dan mengambil KTP untuk mencari alamat rumah dan nama pemiliknya. Ternyata pemiliknya bernama Ibu Ratna. Sinta mengucapkan permisi.
“Benar ini rumah Ibu Ratna?”
“Iya, Dik.” Bu Ratna melihat atas sampai bawah. Ibu Ratna melihat tas Sinta yang kotor dan sudah sobek-sobek. Sehabis ibu melihat atas sampai bawah kaki Sinta, Ibu Ratna berkata, “Ada perlu apa Dik ke sini?”
“Ini Bu, saya ingin mengembalikan dompet yang terjatuh di jalan.” Ibu Ratna memberi uang kepada Sinta.
“Tidak, saya mengembalikan dompet itu dengan ikhlas Bu.” Walaupun dipaksa berulang kali, Sinta Pun masih tidak mau.
Beberapa hari kemudian datanglah pak pos ke rumah Sinta.
Pak Pos pun berkata, “Dik benar ini rumah Sinta?”
“Iya Pak. Ada perlu apa ya?”
“Ini saya cuma mengantar titipan untuk adik.”
“Ini dari siapa Pak?”
“Maaf, saya ada perlu lagi Dik untuk mengantar titipan lagi.”
“Ya, tidak kenapa-kenapa Pak.”
Sinta pun beranjak ke kamar dan Sinta bingung diapakan titipan yang cantik ini. Sinta membuka ternyata ada sebuah tas baru dan di situ ada nama pengantar. Ternyata namanya Ibu Ratna. “Dik, ini ibu Ratna. Tas ini sebagai tanda terima kasih. Ibu kepada Dik Sinta. Karena Dik Sinta sudah menemukan dompet Ibu yang hilang. Terima kasih Dik Sinta.”

Karya keponakanku Laura (Kelas 4 SD)